Batik Solo, Sejarah, Ciri Khas, dan Ragam Motifnya

ARTIKEL

Sejarah Batik Solo

Batik merupakan salah satu ciri budaya peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang diturunkan dari generasi ke generasi. Budaya ini mulai berkembang sejak zaman Kerajaan Majapahit. Di Solo sendiri, batik mulai berkembang sebelum abad ke-15 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Hadiwijaya (Joko Tingkir) dari Kerajaan Pajang.

Pada masa itu, batik di Solo dikenal sebagai Batik Laweyan. Orang pertama yang menggunakan batik adalah Ki Ageng Henis (juga dikenal sebagai Ki Ageng Laweyan), putra dari Ki Ageng Selo yang masih keturunan dari Raja Brawijaya V. Beliau adalah kakek dari Danang Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Ki Ageng Henis menetap di Desa Laweyan sejak tahun 1546 M dan menjabat sebagai Manggala Pinatuwaning Nagari saat Joko Tingkir masih menjadi Adipati Pajang.

Latar belakang Ki Ageng Henis yang berasal dari kalangan penguasa pada jamannya, memungkinkan pengembangan batik secara luas. Hal inilah yang menjadikan pasar batik terkenal di Solo sejak jaman dahulu ada di Laweyan hingga saat ini.

Ciri-Ciri Motif Batik Solo

Batik Solo memberikan fokus yang lebih untuk kain-kain batiknya pada Nilai Adipeni (keindahan), maka biasanya motif batik solo mempunyai ciri-ciri:

1. Batik solo dikenal luas dengan pola dan corak tradisional dalam pengerjaannya melalui teknik batik tulis maupun batik cap.

2. Menggunakan bahan bahan dasar dari dalam negeri

3. Memiliki kecenderungan warna coklat kekuning kuningan

4. Dikenal memiliki pola geometris

5. Menggunakan ukuran dan pola yang kecil

Ragam Motif Batik Solo

1. Motif Sidomukti

Berasal dari kata sido dan mukti yang artinya makmur, sejahtera dan mulia. Motif ini biasa digunakan oleh pengantin jawa dengan makna filosofis membersamai sang pengantin dengan doa semoga dalam memulai hidup baru dipenuhi dengan keberkahan, kebahagiaan, kemuliaan serta rezeki yang berlimpah,selain itu motif ini juga bermakna harapan di masa depan untuk kehidupan yang lebih baik sejatera hidup mulia dengan selalu mengingat Tuhan.

2. Motif Sidoluhur

Motif ini memiliki makna keluhuran. Masyarakat jawa pada umumnya selalu mencari keluhuran materi maupun non materi dalam menjalani kehidupan sehari-hari, keluhuran materi biasanya dicapai melalaui segala aspek ragawi, sedangkan keluhuran non materi biasanya dicapai melalui pendekatan kepada aspek ketuhanan dan keselarasan dalam hidup berdampingan dengan sesama manusia, menjauhkan dari sifat iri dengki, sombong dan mau menang sendiri.

Tak kalah menariknya, motif sidoluhur juga mengandung makna filosofi mendalam yang berarti agung dan terhormat, harapan bagi pemakai batik motif ini bisa menjadi panutan bagi sesamanya, dan mendapatkan kehormatan dalam kehidupannya.

Motif ini digambarkan menyerupai burung merak sederhana atau kupu kupu, (menggambarkan tentang dunia atas atau udara) yang menyimbolkan sifat bayu brata atau anila brata yaitu watak luhur yang tidak ditonjolkan (watak luhur yang rendah hati).

3. Motif Truntum

Bagi mayoritas masyarakat Solo, motif ini dianggap pedoman bagi orang tua yang menggunakannya. Motif truntum bermakna sebagai pedoman hidup atau arahan bagi kehidupan anak-anak mereka dimasa depan.

Motif batik ini ditemukan oleh Kanjeng Ratu Kencana permaisuri Paku Buwono III yang bermakna menghidupkan kembali cinta atau juga bermakna kesetiaan.

4. Motif Sawat

Terinsipirasi dari sayap (sawat), yang dianggap keramat. Dahulu motif sawat hanya digunakan oleh raja dan anggota keluarganya sebagai lambang kekuasaan, Saat ini motif sawat masih sering digunakan oleh pengantin karena dipercaya dapat menyelamatkan hidup penggunanya.

5. Motif Parang

Salah satu motif batik tertua yang pernah ada di Indonesia. Kata parang berasal dari kata pereng yang biasa diartikan lereng, sedangkan kata perengan digambarkan dengan garis diagonal menurun dari yang tertinggi ke terendah. Serangkaian pola seperti huruf “S” tanpa interupsi melambangkan kesinambungan atau koneksi yang tidak terputus, Pola huruf “S” ini juga terinspirasi dari ombak laut yang mencerminkan semangat yang tidak pernah mati.

Motif Parang ini sudah ada sejak jaman Mataram Kertasura, sebagai perlambang spiritual yang kokoh, kuat dan bertahan seperti batu karang, meskipun dihantam ombak sebesar dan sekeras apapun. Makna berikutnya dari motif ini adalah berkesinambungan tiada henti untuk terus memperbaiki diri dan perjuangan yang tidak pernah berakhir atau tidak akan menyerah pada kondisi apapun.

Aturan dalam penggunaan Motif Parang ini, semakin besar pola huruf ”S” yang digambarkan maka semakin tinggi kedudukan penggunanya. Ketentuan tersebut mengikat sampai saat ini, dimana hanya raja atau anggota kerajaan/keraton/kesunanan, sehingga masyarakat umum dilarang menggunakan motif ini untuk kegiatan yang berlangsung di dalam area kerajaan/kesultanan/kesunanan atau kegiatan yang dihadiri oleh raja.

Motif Parang ini sendiri memiliki beberapa jenis motif, yaitu:

a. Parang Rusak

Motif ini dibuat oleh Panembahan Senopati saat bertapa di Laut Selatan. Bentuk pola Motif Parang Rusak terinspirasi dari gulungan ombak yang tidak pernah berhenti dan lelah menerjang bebatuan pantai yang sekeras karang, Motif Parang Rusak juga melambangkan bagaimana memerangi kejahatan dengan cara mengendalikan batin manusia, sehingga hanya manusia yang bijak dan berahlak mulia yang akan memenangkan peperangan,apapun peperangan yang dihadapinya.

b. Parang Klitik

Umumnya motif ini digunakan oleh para putri raja karena memiliki ukuran statis yang halus cenderung kecil dan feminin, tanpa menghilangkan unsur bijaksana, modern, namun manis seperti layaknya penggambaran sosok para putri raja.

c. Parang Barong

Diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma Motif Parang Barong merupakan Motif Parang Patah yang dibuat dalam ukuran besar, Motif ini memiliki makna pengendalian diri dalam dinamika usaha yang tiada henti, kearifan dalam gerak dan kehati hatian dalam bertindak, selayaknya sifat kesatria dan pemimpin yang adil dan bijaksana.

d. Parang Slobog

Biasa digunakan saat pelantikan para pejabat istana, Motif Parang Slobog menggambarkan sifat ulet,teliti,sabar, sehingga menggambarkan harapan agar penggunanya bisa menjadi pemimpin yang amanah dalam melaksanakan tugas, dengan penuh keyakinan dan kearifan dalam dirinya.

e. Parang Kusumo

Motif Parang Kusumo Solo ini memiliki ciri khas pola diagonal dengan garis berkelok-kelok dari atas kebawah, biasanya ditambahkan motif bunga yang sedang mekar. Motif Parang Kusumo biasa digunakan pada saat mempelai saling bertukar cincin.

6. Motif Kawung

Motif yang memiliki pola melingkar seperti buah kawung (sejenis buah kolang kaling atau buah kelapa), namun bisa digambarkan juga sebagai bunga teratai berkelopak 4 (empat), sebagai lambang kesucian dan umur yang panjang oleh masyarakat jawa pada jaman dahulu.

Pada jaman dulu motif ini hanya digunakan oleh kalangan kerajaan saja,namun sekarang sudah banyak digunakan oleh masyarakat biasa. Motif Kawung ini mencerminkan kepribadian seorang pemimpin menjaga hatinya dan mengendalikan hawa nafsu.

7. Motif Satrio Manah

Motif Satrio Manah yang bermakna membidikan panah asmara pada wanita idamannya, kerap digunakan wali calon mempelai pria pada saat melaksanakan prosesi tunggal, lamaran kepada pihak calon mempelai wanita, Konotasi filosofis yang terkandung adalah lamaran diterima oleh calon mempelai wanita dan keluarga besarnya, karena pada masa lalu proses lamaran bisa jadi dilakukan atas kesepakatan keluarga tanpa diketahui oleh kedua calon mempelai.

8. Motif Semen Rante

sebagai perlambang cinta, Motif Semen Rante biasanya digunakan calon mempelai wanita pada saat prosesi lamaran, artinya sejak saat itu hati pengguna kain motif ini selalu melekat kepada pria yang melamarnya.

Motif Semen Rante ini terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:

a. Ornament yang berhubungan dengan bumi seperti tanaman atau tetrapoda.

b. Ornament yang berhubungan dengan udara seperti garuda, burung atau mega mendung (awan).

c. Ornament yang berhubungan dengan air atau laut seperti ular, ikan, katak

Batik motif ini kerap dikaitkan dengan konsep triloka atau tribuwana yaitu ajaran tentang tiga dunia, tiga alam meliputi alam astral yang ditempati manusia, alam atas tempat tinggal para dewa, dan alam bawah tempat mereka yang menjalani cara hidup yang tidak benar dan penuh kebencian.

9. Motif Slobog

Pola dari Motif Slobog yang diartikan lobok atau longgar dalam bahasa Indonesia, sering digunakan untuk takziah atau berkabung atas kematian seseorang. Konotasi filosofisnya harapan bagi orang yang meninggal tidak mengalami kesulitan dihadapan Tuhan Yang Maha Esa, atau dimudahkan jalannya atau di”longgarkan” jalannya. Hanya saja saat ini Motif Slobog banyak disukai oleh kalangan muda karena motifnya yang terlihat seperti motif kekinian.

10. Motif Bondet

Motif Bondet muncul karena rumit dan mewahnya pola yang dituangkan dalam satu rumpun, biasanya motif ini digunakan oleh mempelai wanita pada malam pertamanya,

Motif Bondet telah mengalami pengembangan, yang saat ini banyak digunakan dalam keseharian, diantaranya:

a. Motif Sidoasih

Motif Sidoasih dikembangkan oleh Pakubuwono ke IV dari Kraton Surakarta, motif geometris yang berbentuk persegi panjang ini memiliki nuansa yang luhur, dengan harapan membawa kebahagiaan bagi penggunanya. Motif Sidoasih kerap digunakan pada saat akad nikah atau pada resepsi pernikahan.

b. Motif Ratu Ratih

Motif Ratu Ratih diciptakan dan dikembangkan pada masa Pakubuwono VI tahun 1824, berasal dari kata ratu dan patih, yang berarti seorang raja yang didampingi oleh perdana menteri atau dewa pendamping yang masih muda dari sudut pandang di masa itu.

Motif Ratu Ratih menampilkan citra kejayaan dan sinergi antara pengguna kain batik dan alam semesta.

c. Motif Parang Kusumo

Seperti yang telah diulas sebelumnya, Motif Parang Kusumo diciptakan dan dikembangkan oleh pembatik pada masa panembahan Senopati raja dari kerajaan mataram kuno pada abad ke 16 (point 4.e tentang motif batik).

d. Motif Bokor Kencana

Batik geometris dengan motif dasar lung-lungan, yang melambangkan keagungan dan kewibaan, Motif Bokor Kencana pertama kali dibuat dan dipakai pada masa Pakubuwono XI.

e. Motif Sekar Jagad

Mulai berkembang pada abad ke 18, Motif Sekar Jagat memiliki arti sekar (bunga) dan jagad (dunia), Motif Sekar Jagat yang menggambarkan koleksi bunga dunia, serta pola geometris dengan pengulangan cara ceplok atau berdampingan, menceritakan tentang keindahan dan keluhuran hidup di dunia.

11. Motif Semen Gendong

Motif yang terkesan rumit dengan gambar flora fauna dan penampakan alam lainnya, merupakan jenis batik yang kerap digunakan di berbagai upacara besar, seperti pernikahan dan tujuh bulanan, Motif Semen Gendong melambangkan harapan agar penggunanya diberi kemudahan, dapat mandiri dan Sejahtera. Makna lainnya adalah harapan dan doa agar dapat segera diberi momongan, yang penurut, berbakti kepada orang tua dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

12. Motif Pamiluto

Motif Pamiluto digunakan oleh ibu dari calon mempelai pada saat upacara tukar cicin, dimaknai agar tidak akan terpisahkan. Ciri khas dari batik motif ini adalah pola geometris yang khas disisi atas segitiga, sedangkan di bagian bawahnya motif bunga yang disusun teratur, atau susunan beberapa motif batik yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk geometris segitiga atau persegi panjang, dan merupakan ceplokan dari 12 (duabelas) unsur utama yaitu,gapura sunan giri, burung wallet, damar kurung, gapura pemda, gedung industry, rusa Bawean, kapal rakyat, udang, pudak ikan bandeng, kepiting, motif tambal dan motif tambahan berupa lunglungan, blarak sak imit, bunga.

13. Motif Kesatrian

Batik Motif Ksatrian digunakan pada prosesi lamaran, karena dalam motif dua dimensi yang menggambarkan bentuk busur panah dihiasi flora fauna, dengan warna dasar gelap (hitam dan coklat) memberi makna agar lamaran diterima oleh pihak calon pengantin wanita.

14. Motif Grinsing

Motif batik tua yang dikenal sejak jaman Majapahit sebagai motif penghias kereta kerajaan. Motif Grinsing digunakan turun temurun hingga era Mataram Islam, Motif Grinsing, selain Solo, digunakan juga di Jogjakarta.

Ciri khas dari motif ini adalah ceplok bintang dengan tambahan motif yang bertujuan mempercantik motif, berupa gambar burung prenjak, bunga Teratai, kupu-kupu, daun kapas, kawung, dan kopi pecah,dengan variasi warna dari biru muda hingga coklat tua.

Perbedaan Batik Solo Klasik Dan Solo Modern

Batik klasik Solo dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:

a. Batik Keraton

Jenis batik yang hanya digunakan dikalangan penghuni keraton,seperti Motif Parang, Motif Sidomukti, Motif Sidoasih dan motif lainnya.

b. Batik Saudagaran

Jenis batik ini digunakan oleh para saudagar atau orang kaya yang ingin menggunakan batik keraton, namun untuk mengakomodir hal itu, batik jenis ini menggunakan dasar dari batik keraton dengan diimbuhi gambar-gambar tertentu, contohnya, batik motif sidoluhur dan kawung,

c. Batik Petani

batik petani adalah batik yang identik digunakan oleh petani atau pekerja kasar lainnya. Biasanya dibuat bebas, tidak memperhatikan detail, dan tanpa motif tertentu, seperti flora fauna atau bentuk-bentuk geometris lainnya,

Batik Klasik Solo masih menerapkan aturan tradisional dalam pembuatannya,dan terikat pada pakem yang sudah diturunkan secara turun temurun, dengan warna klasik hitam dan coklat.

Sebagai catatan setelah era Mataram Islam, penggambaran motif binatang tidak digambarkan secara utuh (mirip) tetapi berupa bentuk yang menyerupai saja.

Batik Modern Solo adalah batik yang susunan dan motifnya tidak terikat pada aturan tertentu atau isen-isen. Batik modern bersifat bebas dan kurang memiliki makna spesifik, selain itu batik modern cenderung menggunakan warna-warna cerah seperti merah tua, ungu, biru dan lebih banyak komposisi warna.

Ada beberapa contoh Batik Modern Solo, diantaranya:

a. Batik Motif Abstrak

Jenis batik dengan ornament abstrak berupa burung terbang, ayam tarung, garuda, bunga,galaksi

b. Batik Motif Gabungan

Gabungan dari batik klasik dan batik modern atau budaya lainnya, seperti Batik Jepang yang lahir di era penjajahan jepang, batik ini memuat ornament Bunga Sakura, Gunung Fuji dan menempatkan beberapa aksara Jepang sebagai pelengkap.

c. Batik Motif Lukisan

Motif lukisan dibuat diatas selembar kain ukuran kain batik normal, dengan memuat ornament pemandangan gunung, laut, atau lukisan bunga, tidak jarang juga lukisan abstrak.

d. Batik Motif Cerita Lama

Motif ini biasanya memuat penggalan dari cerita pewayangan Mahabarata atau Ramayana.

Pada akhirnya, mengenakan Batik Solo terutama Batik Klasik Solo berarti merawat ingatan akan luhurnya budaya nenek moyang, Dimana setiap goresan motifnya membawa doa, harapan, dan filosofi mendalam tentang keselarasan hidup manusia, alam semesta dan Sang Pencipta.

Jakarta, Mei 2026

Ditulis oleh Janti Hendro untuk Yayasan Gemati Astha Wastra

Sumber foto : Yayasan Gemati Astha Wastra

Gemati Foundation (Yayasan Gemati Astha Wastra)

info@gematifoundation.org