Batik Dari Pasar Klithikan

ARTIKEL

Sebuah Batik Istimewa Dari Sosok Istimewa di Daerah Istimewa.

Jakarta, Juli 2026

Ditulis oleh Janti Hendro untuk Yayasan Gemati Astha Wastra

Sumber foto : Yayasan Gemati Astha Wastra

(Simbah Batik dalam kenangan)

Pasar klithikan di parkiran Pasar Beringharjo diwaktu malam, ramai namun tetap tenang, penjual dan pembeli melakukan transaksi dengan lirih. Di pojokan sebelah barat nampak seorang nenek tua (simbah) berjualan dibalik tumpukan kain, baju, sprei bekas.

Tegas namun tetap menampilkan kesejukan sebuah transaksi terjadi, kadang tidak tergantung dari berapa untung yang akan didapat, tapi dari hubungan yang akan terbangun antara simbah dan pembelinya, lalu akan dihadiahi senyuman lembut yang membuat pembeli nya ingin kembali lagi.

Beberapa kali menemui simbah berjualan tidak pernah terbayang akan menjadi hubungan yang singkat tanpa pernah mengenal lebih dalam tentang siapa simbah, siapa namanya, dimana tinggalnya, menunda karena beberapa kendala membuat akhirnya penyesalan yang dalam. Akhirnya setelah mondar-mandir, bolak-balik ke Pasar Klithikan, dan tidak bisa menemukan simbah, menerima berita dari salah seorang penjual kalau simbah sudah berpulang seminggu yang lalu, keterkejutanpun terlihat jelas dari penjual tersebut, dagangan simbah telah diambil oleh anak-anaknya, apakah akan dilanjutkan oleh anaknya atau tidak, masih menjadi misteri, simbah pun telah pergi meninggalkan misteri dan senyum yang tidak akan pernah terlupakan, senyum penuh keikhlasan, kepasrahan, dan sekaligus semangat untuk terus mendapatkan pelanggan.

Selamat jalan mbah.,,, senang pernah bertransaksi sama mbah, semoga tenang di sisi Allah (mei 2024).

1. Pasar Klithikan Sentir, sejarah dan keberadaannya.

2. Pencarian batik di Pasar Klithikan Sentir.

3. Batik dari Pasar Klithikan Sentir.

4. Harta karun dari Pasar Klithikan Sentir.

5. Penutup

Pasar klithikan sentir sejarah dan keberadaannya

Pasar Klithikan tidak diketahui pasti sejak kapan mulai ada, banyak yang menduga mulai ada sejak tahun 1960 an atau pada era awal keterpurukan ekonomi di Jogjakarta, namun demikian pada saat ekonomi sudah pulih, keberadaan pasar ini sudah terlanjur menjadi tradisi bagi warga Jogjakarta, wujud asli Pasar Klithikan dahulunya terkenal dengan nama Pasar Sentir, atau pasar yang baru buka setelah jam 08:00 malam dan berakhir pada menjelang tengah malam, disebut pasar sentir karena penjualnya biasanya menggelar dagangannya beralaskan kain atau plastik seadanya dengan penerangan lampu teplok atau sentir.

Pada masa itu dengan penerangan seadanya dan penyajian ala kadarnya ditambah karakter pembelinya yang mencari barang idamannya dengan berbicara berbisik seperti kasak kusuk, dan nilai jual beli yang sangat rendah diibaratkan senilai uang koin yang berukuran kecil yang suaranya bila jatuh, berdentingan lirih maka selanjutnya disebut “Pasar Klithikan” sedangkan makna klithikan dari asal kata klatah klitih yang bermakna mencari sesuatu kesana kemari, karena biasanya orang yang datang ke Pasar Klithikan sekedar melepas penat dengan melihat lihat tanpa ada tujuan pasti untuk membeli sesuatu.

Pada akhirnya Pasar Klithikan telah menjadi tradisi bagi warga Jogjakarta untuk melepas kepenatan, dan menjadi potensi wisata, dan ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dan pantas dijaga keutuhannya.

Di Jogjakarta ada beberapa pasar klithikan antara lain:

· Pasar Pakuncen buka dari jam 10.00 wib sampai jam 22.00 wib

· Pasar Senthir buka dari jam 19.00 wib sampai dengan jam 23.00 wib

· Pasar Niten Bantul buka dari jam 17.00 wib sampai dengan jam 21.00 wib

· Pasar Malam Kotagede pada malam hari, namun pasar Legi Kotagede buka 24 jam

Berada di pasar klithikan seperti berada di suatu tempat dimana memori bisa digali dan harta karun bisa didapat, berjalan keliling Pasar Klithikan membuat kita teringat pada masa kanak-kanak dulu, mengenang masa muda, dan mencari kebutuhan diantara barang-barang rongsokan berdebu penuh nilai untuk kebutuhan kita saat ini yang sudah tidak ditemukan di toko tapi masih kita butuhkan, Pasar Klithikan menyediakan masa lalu, masa kini, dan masa depan kita.

Pada awal penulisan buku tentang Batik tidak pernah terbayang akhirnya banyak sekali insipirasi yang akhirnya justru didapat dari Pasar Klithikan.

Bahkan nilai selembar kain dari Pasar Klithikan bisa memiliki nilai yang sama dengan kain yang didapat dari tempat-tempat yang dianggap lebih bergengsi, dalam konteks sama-sama kain bekas pakai, yang membedakan hanya siapa yang pernah memakainya. Tapi kain tersebut tetap memiliki nilai sejarah kenangan yang sama bagi siapa saja yang melihat dan mempelajarinya, karena pada hakekatnya pada saat kain-kain tersebut sudah dijual oleh pemilik aslinya, maka bagi mereka yang membedakan hanya nilai rupiah yang akan didapat, namun pada saat itu semua kenangan dan sejarah telah dilupakan atau diikhlaskan untuk penjualnya.

Hingga hari ini pada saat kain-kain lawas sudah semakin langka di dapat di Pasar Klitihan, tapi tetap ada saja pedagang yang menawarkan, dan Pasar Klitihan tetap menjadi inspirasi dan tempat pulang….

Youtube Video :

“Pasar Klithikan,Gemati Astha Wastra Dan Koleksi Kain Lawas”

Gemati Foundation (Yayasan Gemati Astha Wastra)

info@gematifoundation.org