12 TOKOH BATIK INDONESIA
ARTIKEL


Batik Indonesia tidak lepas dari peran para tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya ini. Berikut adalah 12 (dua belas) profil singkat para maestro dan penggerak industri batik tanah air:
Na Li Ni
Eliza van Zuylen
Go Tik Swan
Santoso Doellah
Iwan Tirta
Amri Yahya
Bagong Kussudiarja
Kuswaji Kawindrosusanto
Mujitha
Kasom Tjokrosaputro
Ninik Elia Kasigit
Hartono Sumarsono
1. Na Li Ni
Na Li Ni (Puteri Campa) adalah istri dari Bi Nang Un, salah seorang anggota tim ekspedisi Hang He yang mendarat di Lasem, yang pada zamannya merupakan salah satu pelabuhan besar di pesisir Jawa.
Pada abad ke-15, Na Li Ni menjadi orang pertama yang memperkenalkan teknik membatik kepada masyarakat di sekitar Lasem, yang kemudian menjadi cikal bakal Batik Lasem, Na Li Ni terus membatik hingga hasil karyanya dikirim ke beberapa penjuru dunia melalui para pedagang yang datang ke Pelabuhan Lasem. Oleh sebab itu, motif batik Lasem hingga saat ini sangat kental dengan budaya Cina.




2. Eliza van Zuylen
Salah satu maestro batik Nusantara berikutnya adalah Eliza van Zuylen (1863-1947). Nama aslinya adalah Eliza Charlotta Niessen. Beliau menetap di Pekalongan dan menikah dengan Alphons van Zuylen.
Eliza van Zuylen berperan penting dalam perkembangan batik di Pekalongan dengan membangun workshop dan mendorong pembatik untuk menciptakan motif-motif baru.
Selain proses pembuatan batik, Eliza van Zuylen juga berperan besar dalam pemasaran batik Pekalongan hingga ke Eropa, salah satu ciri khas karyanya adalah motif buketan bunga (dikenal sebagai Van Zuylen Bouquet) yang selalu ditandatangani dengan tinta emas pada setiap lembar kainnya. Hingga kini, karya Eliza masih sangat dicari dan bernilai sangat tinggi.


3. Go Tik Swan (KRT Hardjonagoro)
Go Tik Swan atau lebih dikenal sebagai KRT Hardjonagoro setelah mendapatkan gelar Panembahan dari Keraton Kasunanan Surakarta atas jasa-jasanya terhadap kebudayaan Jawa. Ketertarikan beliau pada budaya Jawa tumbuh sejak kecil, saat belajar dari pembatik di usaha milik kakeknya.
Pada masanya, Go Tik Swan mendengarkan cerita2 rakyat jawa, belajar membatik, sampai selanjutnya Go Tik Swan mendalami tari jawa dibawah bimbingan putera Pakubuwono ke IX dan tarian jawa klasik pada Pangeran Hamidjoyo, putera dari Pakubuwono X. Hingga akhirnya Go Tik Swan dikenal sebagai penari terbaik gaya Surakarta
Nama KRT Hardjonagoro pertama kali dipakai saat ia menari di Istana Negara pada tahun 1955 di hadapan Presiden Ir. Soekarno, yang lebih dikenal sebagai Bung Karno. Perkenalannya dengan Bung Karno membuat Bung Karno memberikan ide dan menyarankan untuk menciptakan batik yang tidak beridentitas lokal, (seperti Solo, Jogja, Pelakongan atau Lasem), melainkan “Batik Indonesia”.
Go Tik Swan berhasil menjawab tantangan tersebut dengan menggali filosofi batik Keraton Solo dan memadukannya dengan warna-warna cerah dari Ibu Soed, seorang tokoh legendaris Indonesia yang dikenal sebagai pencipta lagu anak-anak, komponis lagu nasional, dan seniman batik.
Semasa hidupnya beliau menciptakan sekitar 200 (dua ratus) motif Batik Indonesia. Koleksi beliau saat ini masih tersimpan dalam Museum Go Tik Swan di Surakarta (Solo), yang masih dapat dikunjungi hingga saat ini.


4. Santosa Doellah
Santosa Doellah adalah pemilik dari merek terkenal dari Solo, yaitu Batik Danar Hadi. Santosa Doellah yang lahir pada tahun 1941 dan wafat pada tanggal 2 Agustus 2021 karena COVID 19 dan usia tua. Santoso Doellah bersama istrinya Danarsih Hadipriyono, mereka adalah pewaris perusahaan batik keluarga di Solo. Pada tahun 1967 Santosa Doellah mendirikan Batik Danar Hadi, yang diambil dari nama istri beliau.
Pada tahun 2012, Institut Seni Indonesia Surakarta menyematkan gelar "Empu Batik" kepada Santosa Doellah, atas jasa-jasanya dalam menciptakan motif batik. melestarikan batik dan memajukan industri batik.
Santosa Doellah "Sang "Empu Seni Batik", adalah seorang ahli dalam mendesain batik, bersama istrinya yang menguasai desain garmen, memproduksi batik tulis. Produksi pertama mereka adalah batik tulis Wonogiren dengan merek Danar Hadi. Santoso Doellah mendedikasikan hidupnya akan batik dengan mendirikan museum batik terkenal yaitu Museum Batik Danar Hadi di Surakarta (Solo), yang mengoleksi puluhan ribu kain dari berbagai tahun dan daerah di Pulau Jawa.


5. Iwan Tirta
Iwan Tirta (kelahiran 8 April 1935 dan wafat pada tanggal 31 Juli 2010) adalah perancang busana yang berhasil memasukkan unsur batik ke dalam ranah haute couture (adibusana). Karya rancangan Iwan Tirta pernah digunakan oleh para kepala negara dunia pada konferensi APEC dan berbagai ajang internasional lainnya.
Minatnya pada batik berawal saat menerima dana hibah dari John D. Rockefeller III untuk mempelajari tarian Keraton Surakarta, yang mempertemukannya dengan KRT Hardjonagoro atau Go Tik Swan. Sejak itu, Iwan Tirta mengembangkan Batik Indonesia mulai dari pendidikan, penelitian, hingga promosi ke mancanegara, serta mengembangkan filasafat Batik Nusantara.


6. Amri Yahya
Seorang seniman dan pelukis batik abstrak kontemporer. Amri Yahya mengembangkan gaya pembatikan yang mengadopsi aliran abstraksionisme yang termasuk dalam kelompok ekspresionisme abstrak, dengan menitikberatkan pada komposisi garis dan warna.
7. Bagong Kussudiardja
Jarang diketahui oleh khayalak umum, bahwa seorang Bagong Kussudiarjdja memiliki kemiripan pemikiran dengan Go Tik Swan. Bedanya adalah Bagong Kussudiardja tidak memproduksi kain ataupun motif batik, tetapi membangun kerangka berpikir dan apresiasi batik sebagai karya seni tinggi. Kontribusi nya mencakup aspek filosofis (makna pola), makna akan nilai estetisnya (ritme repetisi dan komposisi), performatif (batik sebagai bagian dari gerak), dan kultural (penjaga tradisi Jawa) yang hidup.


8. Kuswadji Kawindrosusanto
Kuswadji kawindrosusanto dikenal dalam dunia seni lukis batik sebagai medium seni rupa, bukan sekadar busana. Kuswadji Kawindrosusanto kerap disebut sebagai salah satu perintis seni batik baru (batik lukis), seorang pakar sekaligus penulis buku kompilasi tentang seni lukis batik Indonesia dari klasik sampai kontemporer. Karya beliau sering menjadi rujukan literatur dalam riset tentang batik, salah satunya berjudul “Unsur Tradisional Dalam Seni Lukis Batik Kontemporer” (1977) sebagai bentuk referensi akademik.
lukisan Kuswadji Kawindrosusanto milik BPK RI
9. Mudjita
Seorang pelukis yang mempelopori lahirnya seni lukis batik di Yogyakarta pada era 1970-an. Mudjita pada awalnya bersama dengan dengan Sanggar lukis batik Banjar Barong di Jogjakarta melukis batik bukan sebagai busana, tetapi menggunakan teknik tutup celup (resist malam) pada media kain batik sebagai pengganti kanvas.
Karyanya Mudjita bersifat lebih bebas seperti lukisan pada umumnya, pembedanya adalah teknik tutup celup menggunakan malam. Mudjita adalah seorang pelopor dibidang seni batik untuk karya seni lukis Teknik tutup celup menggunakan malam, Saat ini karya beliau merupakan koleksi yang dipamerkan oleh Museum Batik TMII (Jakarta).
Selain tokoh-tokoh tersebut diatas, yang menjadi penggagas atau pelopor kemajuan Batik Indonesia, ada pula beberapa tokoh penting yang bergerak di sektor usaha sekaligus menjadi kolektor kain batik Indonesia sebagai salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya batik di Indonesia
10. Kasom Tjokrosaputro
Kasom Tjokrosaputro (Kwee Som Tjiok) adalah pemilik Perusahaan Batik Keris yang didirikan di Solo, tepatnya daerah Sukoharjo pada tahun 1947. Beliau merintis usaha toko batik pertamanya bersama istri beliau yang bernama Gaitini Tjokrosaputro. Sampai saat ini toko Batik Keris sudah memiliki lebih dari 125 gerai yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dengan menyasar segmen pasar menengah keatas.
11. Ninik Elia Kasigit
Ninik Elia Kasigit mengenal bisnis batik sejak kanak-kanak, dimasa itu ibu dan neneknya menggeluti usaha batik, sebuah merupakan usaha keluarga yang telah berakar jauh sejak abad ke 19 di kota Solo.
Di usia 81 tahun, Ninik Elia Kasigit aktif menjalani kegiatannya sebagai komisaris PT.Batik Semar, memberikan Keputusan-keputusan strategis untuk perusahaannya yang berkantor di Jalan Laksda Adisucipto No. 101 Solo, Ninik Elia Kasigit juga masih aktif dan jeli dalam menilai tiap lekuk yang membentuk pola corak batik, bahkan bentuk dedikasi beliau diwujudkan lebih, dalam mengawasi produksi, dan merancang desain batik.
12. Hartono Sumarsono
Adalah seorang kolektor,penulis dan pengusaha batik yang dikenal lewat upayanya mendokumentasikan batik klasik terutama batik tulis lewat buku pameran dan edukasi publik.
Beliau dikenal juga sebagai kolektor batik klasik dan “Penjaga Memori Visual Batik”, penulis buku-buku rujukan berbasis koleksi yang dimiliki, mengangkat tema-tema khusus yang kurang sering terdengar, misalnya Batik Saudagaran, sebagai edukasi dan advokasi pelestarian batik
Akhir kata, profil singkat 12 (Duabelas) tokoh ini membuktikan bahwa batik bukan sekadar sehelai kain, melainkan napas kehidupan dan budaya yang terus dihembuskan oleh para penggeraknya. Dari ketelitian Na Li Ni yang memperkenalkan teknik pertama di pesisir Lasem , hingga kegigihan Hartono Sumarsono dalam menjaga memori visual melalui dokumentasi klasik, setiap goresan malam menyimpan dedikasi yang tak lekang oleh waktu.
Melalui mereka para maestro ini, batik berhasil melintasi zaman, dari tradisi keraton yang sakral, berkembang jauh menjadi adibusana di panggung dunia sebagai identitas Bangsa Indonesia. Sangat beruntung kita yang mengenakannya sampai hari ini. Batik adalah warisan untuk terus dijaga, agar perjalanan dan cerita yang tertuang dalam setiap motifnya tetap abadi bagi generasi mendatang.
Jakarta, Maret 2026
Ditulis oleh Janti Hendro untuk Yayasan Gemati Astha Wastra
sumber foto : google




